Pengalaman Pertama Lintas di Gunung Lawu

Gunung Lawu, bagi kalian yang sudah terbiasa naik gunung mungkin kalian akan langsung bilang "mbok yem", "cuacanya dingin banget disana", "cemara sewu", "mistis", "treknya berbatu". Ya begitulah Gunung Lawu hehe. Pada suatu hari saya bersama 10 teman dari beberapa kota memutuskan untuk mendaki gunung yang berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut.

Nhah saya perkenalkan dulu saudara-saudara saya satu rombongan, ada Mas Adit (Purbalingga), Timot (Kalimantan), Adhot (Magelang), Yuda dan Yuda (Boyolali, entah bagaimana nama mereka bisa sama), Aldi dan Anggar (Jogja), Renya (Salatiga), Husni (Ambarawa), Faisal dan Lutfi (Kudus) dan saya sendiri (Pekalongan). Kami memutuskan untuk berkumpul di Salatiga pada hari Jumat malam, karena sebagian dari kita memang hanya bisa melakukan pendakian pada saat weekend (maklum "cah kerjo") hehe. Malamnya kami ngopi-ngopi dulu di salah satu cafe di Salatiga, saling berkenalan karena sebagian dari kami ada yang belum kenal. 

Keesokan paginya, yang cewek memutuskan untuk belanja dulu di pasar pagi Salatiga karena tidak mungkin mengharapkan kami para pria untuk bangun pagi. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, kami memutuskan untuk memulai perjalanan menuju Basecamp Cemoro Sewu. Awalnya kami memilih untuk naik dan turun lewat Candi Cetho. Namun akhirnya kami memilih untuk lintas jalur, naik dari Sewu turun via Candi Cetho karena jalur Cetho terkenal panjang dan cukup melelahkan kalau untuk mendaki. Perjalanan dari Salatiga sampai Basecamp Cemoro Sewu lumayan lama karena kebetulan hari itu ada gathnas motor CB di Tawangmangu sehingga jalanan menjadi ramai. Kami sampai Basecamp sudah cukup siang, dan kami memutuskan untuk istirahat sejenak di warung dekat Basecamp. Setelah dirasa cukup untuk beristirahat, kami akhirnya memutuskan untuk memulai pendakian.

Jalur Pendakian via Candi Cetho
Kami mengurus registrasi dan berdoa agar perjalanan kali ini diberi kelancaran. Setelah selesai kamipun mulai melangkah. Pendakian kali ini awalnya seperti pendakian biasanya, kebetulan kami bersebelas kenal di Instagram sehingga kami tidak canggung untuk bersenda gurau. Sampai di Pos 1 kami istirahat sejenak sekedar untuk membasahi tenggorokan. Saat itu tidak terlalu banyak pendaki yang melakukan pendakian (kagak sepi-sepi amat juga sih, yang sedang-sedang saja hehe). Setelah cukup beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan. Oke daripada terlalu panjang kalau diceritain tiap pos, saya skip aja ceritanya hehe.
Rombongan kami mulai terbagi menjadi 2 kelompok mulai dari pos 4. Saya berada di kelompok yang belakang, karena saya memang lebih suka jadi sweeper hehe. Sebelum sampai pos 5, kami beristirahat sejenak karena memang sudah malam dan perut kami mulai meronta-ronta. Kami pun makan mie instan karena kami memang tidak ada rencana masak besar malam itu. Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan.
Kami memutuskan untuk membangun tenda di sekitar sendang drajat, salah satu mata air yang ada di Gunung Lawu. Kami membuat 4 tenda, 3 tenda saling berhadapan, 1 tenda entah menghadap kemana. Malam itu kami hanya memutuskan untuk membuat minuman hangat dan secepatnya tidur karena malam itu cuaca Lawu benar-benar dingin.

"The sun always shines above the clouds". Namun pagi itu matahari tampak malu karena tidak bersinar cerah tertutup kabut. 9 orang memutuskan untuk mengunjungi Hargo Dumilah, puncak Gunung Lawu, saya dan Renya memutuskan untuk berada di tenda menyiapkan makanan karena kami berdua pernah muncak disini. Lumayan lama juga mereka di puncak, matahari mulai memancarkan sinarnya, saya dan Renya hanya bisa memasak ala kadarnya karena koki gunung kali ini adalah Husnia.

Muncak, muncak~

Bocor dimana-mana :D

Sekitar jam 9 mereka turun dari puncak, Husnia pun mulai ribet untuk memasak, dan masakan kala itu merupakan masakan terenak yang pernah saya makan selama di gunung. Chicken Cordon Bleu ala Chef Husnia. Prosesnya lumayan ribet, sampai membawa palu makanan yang terbuat dari besi, direndam susu, masih harus digoreng, tapi hasilnya........ hmmmmm enak banget. Butuh waktu 2 jam untuk memasak makanan itu, setelah jadi pun seperti biasa kami berfoto ria dengan makanan tersebut, 1 makanan diperebutkan, bukan untuk dimakan, tetapi untuk difoto!! Selesai foto, lalu kita makan bersama dan packing buat persiapan turun karena kita akan turun dari jalur Candi Cetho, jalur yang terkenal panjang, masih lebat hutannya, dan mistis!

Ada yang sibuk masak, ada yang sibuk makan.

@anggaaaaar

@renya.at

@faisalnoviant
Kami turun jam 1 siang, dalam perjalanan turun kami melewati warung yang cukup melegenda, Warung Mbok Yem, warung yang selalu dibicarakan oleh para pendaki. Dari Warung Mbok Yem ini kalian akan menemui persimpangan antara Jalur Cetho dan Jalur Cemoro Kandang. Kami pun milih jalur yang kanan, jalur Candi Cetho, awalnya jalannya turun, landai, sampai kami ketemu dengan sebuah lokasi yang banyak batu bertebaran. Awalnya saya bingung, banyak uang logam diatas batu! Lalu salah satu saudara saya menjelaskan bahwa kita harus meletakkan uang logam apabila kita mendengar suara orang menawarkan barang seperti di pasar. Tempat yang banyak batunya itu ternyata bernama Pasar Dieng dan katanya posisi batunya kadang berpindah-pindah sendiri. Okelah saya sih positif thinking aja bahwa perjalanan ini seperti perjalanan biasanya. Kami hampir tersesat di Pasar Dieng ini, kondisi cuaca yang berkabut membuat jalan tidak terlihat, untungnya Adhot sadar bahwa jalan kami salah dan dia mulai melihat jalan yang benar saat kabut mulai sedikit membuka.

Jalan sendirian aja mbak..

Kabut kala itu.
Jalan dari Pasar Dieng juga enak, jalannya turun mulu. Jalur Cetho ini memang banyak kejutannya. Setelah ketemu Pasar Dieng, kami disuguhi oleh pemandangan sabana yang luaaaaaas banget, lebih luas dari Sabana Merbabu. Ini nih yang bikin perjalanan lama, pemandangan bagus pasti foto haha. Entah rasanya ingin sekali ngecamp disini lagi, hamparan sabana yang luas, sunyi, damai, nyaman deh pokoknya.

Perjalanan ini~


Luasnyaaaaa


Sepi banget


Disini bisa ada airnya lho~ jadi kayak Ranukumbolo katanya hehe
Setelah bertemu sabana, kami menemukan yang istimewa lagi. Gupak Menjangan, tempat ini ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, cocok untuk hammock-an. Kami disini membuat tower hammock, 3 tingkat hammock kami buat. Angin sepoi-sepoi membuat kami betah berlama-lama disini sampai kami lupa waktu, cukup lama kami disini.

Wanita-wanita tangguh Renya, Anggar, Lutfi, Husni.

Faisal ngapain tuh 

Naiknya lumayan susah nih

Nyantai aja dulu hehe

Nampang ah


Setelah 2 jam disini, kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Belum lama kami melangkah, ada lagi tempat yang aduhai indahnya, namanya Bulak Peperangan. Konon katanya, tempat ini merupakan tempat peperangan antara kerajaan Majapahit pimpinan Brawijaya 5 dengan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Disini merupakan hamparan sabana dengan perbukitan di kanan kirinya. Para pendaki yang mulai perjalanan dari jalur Candi Cetho biasanya memilih untuk mendirikan tenda disini. Kami hanya sebentar disini karena sudah terlalu sore dan kami memang sebisanya mungkin menghindari perjalanan malam.

Ini ngapain juga

Three mas kentir.

Mulai dari sini lagi-lagi rombongan kami terpisah, yang tertinggal hanya saya, Husnia, dan Timot. Perjalanan kami pun tidak terlalu lancar, mulai dari Husnia yang "njungkel", tangan Timot yang tertusuk duri, kaki Husnia yang sakit sampai Timot bawa carrier depan belakang, dan yang lebih asik lagi banyak gangguan dari "tuan rumah" hehe. Entah kenapa di hutan Gunung Lawu perasaan saya sangat tidak nyaman padahal kalau di gunung lain tidak begitu. Akhirnya saya, Husnia, dan Timot sampai di Pos 1 dan bersyukur bisa keluar dari hutan. Namun ternyata, perasaan tidak nyaman saya tidak berhanti sampai disitu. Setelah dari pos 1 kami memasuki wilayah candi, pertama kita memasuki Candi Ketek. Disini hawanya lebih aneh lagi hehe. Melewati Candi Ketek pas malam hari mending ga usah tengak-tengok deh. Nhah dari Candi Ketek kalian akan menemui jalan turun dan menemui sungai. Disini kami bertiga kehilangan jalur. Saya memutuskan untuk balik mencari jalur, untungnya saya ketemu rombongan pendaki dan kami pun akhirnya menemukan jalan untuk pulang.

Saya, Husnia, dan Timot ternyata tertinggal 1 jam dari sembilan teman lainnya. Kami menunggu truk yang akan membawa kami kembali ke Basecamp Cemoro Sewu. Di truk kami menceritakan kejadian yang dialami saat turun. Ternyata bukan hanya saya saja yang mengalami kejadian aneh hehe.

Yang jelas perjalanan ini merupakan pengalaman berharga bagi kami semua. Sampai saat ini pun persahabatan kami masih terjalin. Walaupun sekarang kami terpisah jarak, namun kami masih saling berkomunikasi satu sama lain. Memang susah untuk bisa berkumpul bersama dalam formasi lengkap, tapi disetiap pendakian ke Gunung lain ada saja salah satu dari mereka yang menemani saya. Mungkin itu saja yang bisa saya tulis tentang perjalanan saya di Gunung Lawu, tunggu cerita saya ditempat yang lain ya hehe.

Squad

Adhot, Saya, Faisal, Timot, Renya, Anggar, Lutfi, Aldi, Adit, Husni, Yuda

Bulak Peperangan

0 Comments